Berprasangka Baik Kepada Allah

Share this

SMMC.or.id. — Menghadiri taman surga, sekaligus silaturahim untuk menguatkan ukhuwah Islam adalah kegiatan ratusan Muslim Smansa Medan sekitar Jabodetabek pada 11 Februari 2018 lalu.

Bertempat di Masjid Al Ihsan BKPM, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan,  Pengajian Akbar SMMC ini dihadiri sekitar 130 orang Muslim Smansa Medan lintas angkatan.

Pengajian diawali dengan pembacaan ayat suci Al Quran surat Al Baqoroh ayat 284-286 oleh santri Pusat Dakwah Al Quran (PDA) yakni Azzam dan Dasir serta saritilawah Sandra SMMC 1999. Dilanjutkan dengan penjelasan singkat tentang program-program SMMC oleh Toga Buana Lubis SMMC 1992 selaku Sekjen SMMC dan sambutan dari Ownie Sumantri SMMC 1971 selaku Ketua Dewan Pengawas SMMC.

Bersama Ustadz Budiman, SE yang menyampaikan kajian dengan tema “Berprasangka Baik kepada Allah”, para peserta diingatkan bahwa dalam kondisi apa pun, manusia semestinya tetap berprasangka baik terhadap Allah SWT. Sebab, prasangka tersebut sejatinya juga akan menjadi dasar penilaian balik Allah terhadap hamba-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman:

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan memiliki sikap roja‘ (harap) pada-Nya.

Kapan harus huznuzhon pada Allah?

Dalam kondisi apa pun, manusia semestinya tetap berprasangka baik terhadap Allah SWT.  Di antaranya saat mengalami musibah, saat berdoa dan saat mendekati ajal. Terutama di saat kita memohon sesuatu kepada-Nya, kita harus yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. Tentu disertai usaha yang kuat, dan senantiasa mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Allah.

Huznuzhon Pada Allah Dari Musibah

Setiap manusia pasti pernah mengalami musibah dalam kehidupannya, musibah besar maupun kecil. Dalam memahami musibah tersebut, dapat muncul 4 (empat) sikap yang berbeda dari berhuznuzhon pada Allah.

  1. Memahami musibah sebagai takdir. Ini akan memunculkan sikap ridho, ketika musibah menimpa kita
  2. Memahami musibah sebagai azab.  Ini akan memunculkan sikap taubat kepada Allah SWT.
  3. Memahami musibah sebagai ujian. Ini akan memunculkan sikap sabar.
  4. Memahami musibah sebagai rahmat. Ketika kita telah sampai pada pemahaman ini, maka baru kita dapat merasakan kasih sayang Allah kepada kita.  In syaa Allah banyak berkah dibalik musibah itu.
Berkah di Balik Musibah

Tidaklah Allah menimpakan suatu musibah kepada para hambaNya yang mu’min kecuali untuk tiga hal yaitu 1) mengangkat derajat bagi orang yang tertimpa musibah, karena kesabarannya terhadap musibah yang telah Alloh tetapkan, 2) sebagai cobaan/ujian bagi dirinya dan 3) sebagai pelebur dosa, atas dosanya yang telah lalu.

Saat berdoa, lanjut Ustadz Budiman, kita harus yakin bahwa doa akan dikabulkan Allah. Untuk itu, kita harus rajin beribadah, selalu memohon ampun kepada Allah dan mengikuti doa dengan usaha yang maksimal sesuai kemampuan.  Agar makbul, kita juga harus menghindari penghalang doa, yakni harta yang haram. Selain itu, harus selalu diingat bahwa jangan melakukan doa syirik.

Di akhir materi ustadz Budiman menyampaikan agar kita memenuhi hidup ini dengan amal soleh dan maarifat lah pada Allah SWT.  Allah SWT akan menjadikan kita seperti apa yang kita prasangkakan.  Oleh karena itu selalu berprasangka baik lah kepada Allah SWT sampai dengan menjelang meninggal dunia.

*Sub Divisi Dakwah SMMC*

Simak materi Ngobrol Perkara Islam lainnya di sini.

#PengajianSMMC
#BersamaBerdiriDiSMMC
#BersinergiMembangunNegeri

Share this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *