Ber-Islam Zaman Now

SMMC.or.id. — Ber-Islam Zaman Now, adalah materi pengajian Majelis Madani bersama Ustadz Abdul Muta’ali, Ph.D., pada Ahad 8 April 2018 lalu. Majelis Madani adalah majelis pengajian SMMC aliansi 1980-1989. Pengajian ini diselenggarakan di Rumah Al Hujjah, Jl Wijaya Timur Raya No 105A, Petogogan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Resume pengajian sebagai berikut:

1. Istilah bau tanah tidak harus usia yang tua, yang penting bagaimana cara kita akan wafat nanti. Kematian yang husnul khatimah dan syahid lebih baik.

2. Berdoa untuk panjang umur adalah salah, harusnya berdoa minta baroqah. Kalau hanya panjang umur sama seperti Iblis, yang minta dipanjangkan umurnya, bahkan sampai hari kiamat.

3. QS.Al-Baqarah ayat 143, Allah SWT berfirman:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam); umat pertengahan (yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

Intinya : Allah bangga pada umat Islam dan Nabi. Pada hari kiamat Rasulullah akan menjadi saksi bagi umatnya, namun Rasulullah tidak sanggup, karena banyak umatnya yang melakukan maksiat dan meminta kepada Allah agar seluruhnya masuk syurga pada akhirnya. Allah mengabulkan, ayat ditutup dengan pernyataan Allah sesungguhnya Allah kepada umat Islam berlaku lemah lembut dan dengan kasih sayang.

4. Hadist Ibnu Hajar (lemah) Nabi berkata “umur umat ku sekitar 1500an” sisa waktu kita 61 tahun lagi.

5. Beda Al Amiin dan As Shiddiq.

*gelar Al Amiin kepada Nabi diberikan oleh kaum Quraisy sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Begitu menjadi Nabi dan Rasul, banyak kaum Quraisy tidak mempercayainya, sehingga Al Amiin itu hanya berlaku horizontal dikalangan kaum Quraisy.

*beda dengan Shiddiq. Abu Bakar ketika ditanya percaya atau tidak Nabi melakukan perjalanan isra’ mi’raj dalam semalam, mengatakan yang lebih dari itu pun beliau percaya, itulah Shiddiq.

6. Kekuatan Istighfar.

Seringlah kita istighfar karena akan meringankan kita ketika Allah akan mengangkat kita.

Kisah kekuatan istighfar :
Pada tahun ke-5 Hijriah , di malam ke-25 Ramadhan, Nabi beserta para sahabat termasuk Abu Bakar sedang melakukan i’tikaf di Masjid Nabawi. Kemudian lewatlah seorang wanita kupu-kupu malam yang akan menuju tempat ‘kerjanya’. Wanita tersebut tiap malam selalu melewati Masjid Nabawi dan melihat Nabi serta para sahabatnya i’tikaf.

Namun malam itu dia terhenti di depan masjid dan merenung. Nabi yang bersih dari dosa saja seperti ini ibadahnya. Abu Bakar yang sudah dijamin syurga pun kuat sekali ibadahnya. Sedangkan hamba yang tiap malam maksiat tidak pernah melakukannya. Setelah merenung, saat itu jugà wanita tersebut bersujud memohon ampun kepada Allah. Nabi melihatnya dan berseru kepada wanita tersebut “ya Fulanah, anda mendapatkan lailatur qadar, sedangkan kami yang di masjid belum tentu dapat”.

Sub Divisi Dakwah SMMC

Simak materi Ngobrol Perkara Islam lainnya di sini.

#PengajianSMMC
#MajelisMadani80-89
#BersamaBerdiriDiSMMC
#BersinergiMembangunNegeri

Berminat donasi?

klik >>> whatsapp ke +628887700818>>>