Sunnah Sedirham Surga

 

SMMC.or.id. — Menjalankan sunnah Rasul artinya meneladani Rasulullah SAW, oleh karenanya sunnah pertama yang harus dijalankan adalah menjadi rahmat bagi sekeliling kita.

Ringkasan Kajian Ustadz Salim A Fillah, 5 November 2017 di Masjid Al Jihad, Medan  yang diselenggarakan oleh Pejuang Subuh Medan, didukung oleh SMMC dan berbagai pihak lainnya.

Tanda rahmat Allah hadir dalam diri kita

Salah satu bukti nyata seseorang mendapat dari mendapat rahmat Allah adalah lembut kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Kalau orang mendapat rahmat dari Allah, maka dia akan menjadi rahmat bagi orang sekitarnya.

Orang-orang yang mendapat rahmat Allah akan memandang dan bersikap lembut kepada saudaranya. “ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159). Maka kebenaran itu harus disertai kelembutan. Sampai-sampai Rasulullah bersabda: “(Haram tersentuh api neraka) orang yang Hayyin, Layyin, Qorib, dan Sahl.”

  1. Hayyin. Golongan yang haram tersentuh oleh api neraka yang pertama adalah golongan Hayyin, golongan ini merupakan orang-orang yang memiliki ketenangan serta keteduhan dzahir ataupun batin. Orang yang hatinya sangat lembut, gampang tersentuh, mudah terenyuh, sangat ingin berbuat baik melihat kondisi orang lain yang terkena bencana, penderitaan sesama muslim, hatinya tergerak.
  2. Layyin, merupakan orang-orang yang lembut sikapnya kepada orang-orang.
  3. Qorib. Golongan ini merupakan orang-orang yang akrab, ramah diajak berbicara, memiliki murah senyum jika bertemu serta wajahnya berseri-seri tentunya begitu enak dipandang dan sangat mudah untuk diajak berteman.
  4. Sahl adalah orang yang tidak mempersulit sesuatu, selalu memiliki solusi untuk setiap permasalahan, tidak berbelit-belit, tidak menyusahkan orang lain. Misalnya memudahkan urusan orang kesulitan membayar hutang kepadanya.

Inilah pentingnya menjadi orang yang lembut, penanda rahmat Allah SWT hadir dalam diri kita. Rasul adalah makhluk yang paling banyak mendapat rahmat Allah.  Firman Allâh Azza wa Jalla yaitu, “Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam [Al-Anbiya /21:107]”, sehingga Rasul adalah menjadi rahmat bagi semesta alam.

Sunnah Pertama

Kita ingin meneladani Rasulllah, itulah sunnah. Sunnah pertama itu adalah untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. Ketika membicarakan sunnah, maka harus menjadi rahmat bagi semesta alam.  Jika tidak mampu menjadi rahmat bagi semesta alam, maka lingkupnya diperkecil, sampai di tingkat keluarga. Kalau tidak mampu menjadi rahmat bagi keluarga masing-masing, alangkah ruginya. Kita harus banyak- banyak mengaji, karena dalam pengajian banyak rahmat dicurahkan.  Semakin banyak ngaji akan semakin lembut sikapnya, dan penuh kelapangan.

Sunnah pertama adalah menjadi rahmat bagi sekeliling kita.

Ketika berbeda pendapat, tidak berarti yang satu benar yang satu salah. Tidak selalu seperti demikian.  Contoh sabda Rasullah usai perang Khandaq “Janganlah ada satupun yang shalat ‘Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. Atas perintah Rasul tersebut terjadi perdebatan antara para pengikut dalam memahami sabda tersebut.

Ada yang menyegerakan perjalanan untuk tiba secepat mungkin di Quraizhah, ada yang melakukan sholat ashar di perjalanan, ada yang melakukan di Quraizhah bada isya.  Ketika bertemu Rasul, mereka saling mengadukan hal tersebut.  Namun Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencela salah salah satunya.

Jangan-jangan jika saat ini kita debat keras tentang suatu ikhtilaf (perbedaan), ternyata di akhirat nanti itu urusan itu dianggap Allah tidak masalah. Hati-hati dengan ikhtilaf seperti ini, pelajari betul-betul ilmunya, supaya kita kita bisa selalu menjadi rahmat. Adalah rahmat bagi umat dari perbedaan pendapat di kalangan imam.  Kalau yang berbeda pendapat para makmum, bisa jadi masalah.

Contoh ikhtilaf:

1. Tentang turun sujud jangan seperti unta.  Janganlah kalian turun sujud seperti turunnya unta. Ada versi tambahan yang mengatakan “Hendaknya dia letakkan tangannya sebelum lututnya.” Hal ini karena unta kakinya 4, sedangkan manusia kakinya 2.  Jika unta turun untuk menderum, maka  yang turun duluan adalah kaki belakang dulu.  Oleh sebab itu riwayat ini mengatakan sujud dengan meletakkan tangan dahulu. Karena tangan manusia seumpama kaki depan unta.Riwayat lain mengatakan “Hendaknya dia letakkan dua lututnya sebelum dua tangannya.” Hal ini didasarkan karena ketika unta menderum, kaki belakang dilipat ke belakang, sementara ketika manusia sujud, kakinya dilipat ke depan, yaitu dengan menurunkan lutut. Jadi kesimpulannya kedua versi itu sama saja, tidak menyerupai unta.

2. Ada hadis yang bertentangan tentang larangan buang air menghadap atau membelakangi kiblat.  Ada hadis lain ketika Rasul buang air di tempat tertutup, beliau menghadap kiblat. Hadis yang melarang itu berlaku di tempat terbuka.  Kalau kosletnya sudah terlanjur menghadap kiblat, maka  sesuaikan dengan kosletnya saja, jangan menghadap arah lain agar najis nya jangan kemana-mana.  Ada pertanyaan, kalau kita mandi di sungai kemana saya harus menghadap?  Terutama jika tidak tahu arah kiblat.  Maka jawaban Imam, “menghadaplah kemana pakaianmu kamu letakkan agar pakaian kamu tidak hilang hanyut atau hilang diambil orang.

3. Kisah Mu’adz bin Jabal RA.Beliau kalau sholat fardu, datang ke masjid nabawi menjadi makmum Rasul.  Setelah selesai, dia pulang ke kampungnya untuk jadi imam di kampungnya.  Sangking semangatnya sunnah, apa yang dibaca rasul, dibacanya di kampong nya.  Suatu saat orang-orang kampung bubar sholatnya, karena Mu’adz bin Jabal bacaannya panjang sekali.  Salah seorang protes dan keluar dari jamaah. Tatkala Mu’adz mengetahui hal tersebut, ia mencela orang tersebut dan menyebutnya sebagai seorang munafiq.  Kemudian mereka mengadu kepada Rasul dan mengatakan mulai hari ini kami gak akan sholat jamaah lagi.

Lalu Mu’adz bin Jabal dipanggiil dan ditegur oleh Rasul.  Lalu Mu’adz bin Jabal menyampaikan bahwa dia mengamalkan persis yang dilakukan oleh Rasul di Masjid Nabawi, sehingga menanyakan apa kesalahannya.  Lalu Rasul bersabda, “Tentu tidak bisa serta merta harus sama persis. Jamaah ku berbeda dengan jamaah mu, bacalah yang ringan untuk mereka” yaitu  sabbihisma rabbikal a’laa.
Pembelajaran dari kisah-kisah itu adalah, sunnah kadang-kadang tidak berarti ikut Rasulullah persis, melainkan kadang-kadang bisa berarti keringanan, kemudahan dan kenyamanan kepada ummat untuk bisa menegakkan syiar-syiar Allah.

Sunnah itu adalah semangat untuk membawa ummat untuk sama-sama ke surga. Sunnah yang paling sunnah adalah membawa rahmatnya Allah untuk dirasakan oleh seluruh semesta alam.

Jika kita kurang mengaji, maka akan kurang paham, sehingga melihat perbedaan sebagai kekeliruan. Padahal belum tentu. Contoh: Ada satu hadist yang sangat sahih: “talkinkan mayit-mayit kalian dengan ucapan Laa ilaaha illa Allah”

Apakah mentalkinkan seseorang, sebelum matil atau sesudah?  Jika sebelum, berarti ikut pemahaman Ibnu Rajab Al Hambali dkk, yakni tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illa Allah’.  Ini terkait hadis yang lain yaitu “Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah “Laa ilaaha illa Allah” maka akan masuk surga”.   Ketika kedua hadis ini dipertemukan, maka ketemulah pemahaman talkin dibacakan kepada orang yang akan mati.

Pendapat Imam Nawawi, coba tanya orang arab manapun, artinya “mauta” dalam hadis di atas, adalah orang yang akan mati atau sudah mati?  Mauta artinya orang yang sudah mati.  Sehingga talkin pada mayit adalah ibadah sunnah berdasarkan hadis tersebut. Nanti akan ada yang bertanya, kalau sudah mati untuk apa ditalkinkan?

Dalam hal ibadah, kita jangan menanyakan kegunaannya, melainkan menjalankan sesuai perintah Allah dan Rasulullah. Karena jika banyak bertanya, maka akan menjadi tidak masuk akal. Soal manfaat adalah urusan Allah. Hikmahnya akan kita ketahui nanti, yang utama adalah melaksanakan sunnah Rasul.

Jika kalian menanyakan kegunaan talkin, kata Imam Nawawi, maka talkin itu amal bagi yang masih hidup, sesuai hadis. Yang dapat pahal dari talkin adalah orang yang mentalkinkan, yang masih hidup. Untuk yang sudah mati, hadis lain menyebutkan bahwa mayit masih mendengar langkah terakhir pengantar mayit ke kuburan.  Langkah kaki saja terdengar apalagi talkin.

Kita jangan keras kepada ikhtilaf, melainkan kita harus keras kepada bid’ah. Tingkat kerasnya kita juga bertingkat-tingkat sesuai tingkatan bid’ah.  Misalnya bid’ah yang merusak akidah, kita harus sama-sama keras.

Banner SMMC di Pengajian Ustadz Salim A Fillah
Macam-Macam Bid’ah

Bid’ah adalah kebalikan dari sunnah. Ulama membagi bid’ah dan pembahasannya pun beda-beda.Ada bi’dah mukaffirah, asliyah, khafifiyah. Ada bidah yang bisa menjatuhkan pada kekafiran, bid’ah asli yang hakiki, yaitu bid’ah itiqadiyah adalah bid’ah yang ada dalam keyakinan. Contoh lain bid’ah keyakinan adalah Qodariah, jabariah, khawarij, murjiah.

Bid’ah jabariah adalah pemahaman bahwa semua yang kita lakukan adalah kehendak (takdir) Allah, termasuk dalam bermaksiat. Bid’ah qodariah adalah kebalikan dari bid’ah jabariah, pemahaman bahwa setelah Allah menciptakan kita, selanjutnya terserah kita sendiri. Bid’ah murjiah adalah berlebihan dalam berharap kepada Allah, sementara perbuatannya tidak sesuai dengan perintah Allah. Bid’ah khawarij: sedikit dosa, neraka, kafir.  Ada kecenderungan dalam takut, yang menganggap setiap dosa keluar dari iman. Setiap keluar dari iman berarti keluar dari rahmat Allah dan akan masuk neraka.

Ada juga bid’ah menurut Izzuddin bin Abdussalam. Beliau mengatakan, bahwa bid’ah bukan jenis hukum, melainkan objek hukum. Bid’ah terbagi menjadi lima, sesuai hukum dan Islam, yaitu wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah (boleh). Hukum bid’ah tergantung dari karakteristiknya berdasarkan pada kaidah syariah. Apabila masuk dalam kaidah yang wajib, maka ia wajib; atau masuk dalam kaidah haram maka ia haram. Atau sunnah, maka menjadi sunnah. Atau masuk kaidah makruh, maka menjadi makruh atau masuk kaidah mubah, maka menjadi mubah. Setiap bidah harus diteliti, masuk dalam kategori hukum yang mana?

Contoh bidah yang fardhu/wajib.  Yakni saat Umar membuat mushaf Al Quran, karena banyak penghapal Quran yang gugur.  Kata Abu Bakar, “wahai Umar, ini akan menjadi bid’ah karena Rasul tidak pernah memerintahkan itu”. Namun Umar mendesak, sampai akhirnya ide tersebut terwujud, jadilah mushaf.

Bidah yang sunnah.  Contohnya saat Umar menggabungkan sholat qiyamul lain di bulan Ramadhan menjadi satu sholat sunnah taraweh. Ubai menyampaikan, “wahai amirul mukmimin, Rasul tidak pernah memerintahkan kita melakukan ini”.  Umar lalu mengatakan, “inilah sebaik-baiknya bid’ah adalah ini”

Bid’ah mubah, contohnya adalah bid’ahnya Saidina Usman, yaitu tidak menqasar sholat di Mina.  Lalu ketika ditanya, beliau menjawab karena mempunya istri orang sini (mertua), sehingga  tidak menqasar shalat.  Selain itu, Usman juga bekerja di sini secara rutin, sehingga tidak menqasar sholatnya.

Jamaah di Pengajian di Masjid Al Jihad Medan
Kategori Sunnah

Ada 3 kategori sunnah.

  1. Sunnah qauliyah merupakan perkataan atau sabda Rasulullah SAW
  2. Sunnah fi’liyah adalah perbuatan nabi yang berdasarkan tuntunan rabbani untuk ditiru dan diteladani
  3. Sunnah taqririyah merupakan pengakuan nabi  dengan tidak mengingkari sesuatu yang diperbuat oleh seorang sahabat ( orang tunduk dan mengikuti syara ) ketika dihadapan nabi atau diberitakan kepada beliau, lalu nabi sendiri tidak menyanggah, tidak menyalahkan atau juga tidak menunjukkan bahwa beliau meridhainya.

Ada ikhtilaf di antara para ulama, mengenai sunnah taqrir. Ada ulama yang memahami itu hanya berlaku saat nabi hidup, sehingga tidak berlaku lagi saat ini.  Namun ada pula yang memahami sebaliknya.  Contoh mengenai doa yang dibaca seorang sahabat yang ditaqrir nabi. Apakah taqrir itu dipahami hanya berlaku saat itu saja atau bisa sampai saat ini?  Contoh ini merupakan pendekatan beragama, apakah taat atau adab? Tugas kita adalah damaikan diantara kedua saudaramu. Karena pendekatan sahabat dahulu, taat dan adab menjadi satu.

Ini contoh adab Abu Bakar pada Rasulullah:
Rasul menjelang wafat, beliau sakit.  Yang menjadi Imam Abu Bakar. Suatu hari Rasul merasa agak sehat dan ingin ikut sholat jama’ah di masjid.  Saat Abu Bakar hendak bertakbir, dia melihat Rasul duduk dibelakangnya. Ketika melihat Rasul, maka Abu Bakar mundur.  Lalu Rasul mendorong Abu Bakar, Abu Bakar maju sejauh dorongan Rasul.  Setelah itu Abu Bakar mundur lagi ke belakang Rasul. Lalu Rasul mendorong Abu Bakar lagi.  Itu terjadi 3 kali.  Setelah itu, Abu Bakar duduk di samping kanan agak belakang Rasul, dan kemudian mengisyaratkan jamaah untuk ikut duduk, karena Rasul menjadi imam sambil duduk.

Setelah selesai sholat, Rasul menegur Abu Bakar, kenapa mundur tidak mau menjadi imam. Jika Abu Bakar hanya taat, maka beliau pasti akan maju menjadi imam.  Abu Bakar menjawab, “Ya Rasul lebih baik tanah di depan saya terbuka dan saya jatuh di dalamnya dan menghimpit saya sampai binasa, daripada saya menjadi imam, padahal saya tahu ada Rasul di belakang saya”.  Ini adab Abu Bakar.

Adab ini ada batasnya.  Jika sudah sampai tahap merepotkan, kembali lagi ke taat.  Contoh: Kisah pemakaian mimbar Rasul di Masjid Nabawi, di undakan paling atas.

Ketika Rasul wafat, Abu Bakar merasa tidak pantas memakai mimbar setinggi Rasul, sehingga Abu Bakar turun satu undakan.  Demikian pula ketika Umar menjadi khalfah, beliau turun satu undakan lagi.  Ketika Usman menjadi khalifah, beliau ketika akan naik mimbar, berpikir lama apakah akan meneruskan tradisi adab yang akan berkepanjangan.  Kemudian Usman dengan mengucap Bismillah dan kaki gemertar naik mimbar di posisi undakan Rasul.  Mungkin ada orang yang berpikir, bagaimana adabnya Usman.  Namun Alhamdulillah ada Usman mengambil sikap demikian.  Jika tidak, bayangkan bagaimana undakan mimbar saat ini, sudah tergali sampai berapa meter kedalaman di bawah tanah.

Inilah jiwanya sunnah.  Sunnah itu memudahkan dan menyamankan.  Adab dapat membuat suatu sunnah menjadi lebih indah dijalankan,   namun ketika sudah merepotkan, seperti kisah di atas, kita kembali lagi ke taat.

-Salim A Fillah –
Masjid Al Jihad Medan, 5 November 2017

Simak berita SMMC lainnya disini

 

 

Berminat donasi?

klik >>> whatsapp ke +628887700818>>>